Sutradara : Monti Tiwa
Pemeran : Poppy Sovia, Migi Paradhita, Sadya Triyudha
Genre : Horror
Rilis : 3 September 2009
IMBD score : 6.9/10
Hampir 11 tahun sudah, film ini dirilis. Ada banyak ulasan positif tentang film ini. Tapi jujur saja, saya tidak terlalu berminat dengan film Horror Indonesia jaman dahulu kala, yang penuh dengan fanservice paha mulus, dada montok dan bintang tamu film dewasa. Berangkat dari hal itulah, maka saya terasa malas untuk melihat film horror Indonesia.
Saya penasaran dengan film ini yang katanya digarap dengan gaya mockumenter, maka proses pencarian film ini pun dimulai dan bisa duduk manis di file laptop saya.
Ceritanya sederhana, yaitu perjalanan kru BTS (Behind The Scene, ya! bukan BTS boyband korea!) film "Menari di Atas Angin" ke Jogjakarta. Tentunya, ada banyak cerita selama mereka proses produksi disana, mulai dari gangguan makhluk halus, sampai perjalanan mereka ke dunia lain, dan perjuangan mereka keluar dari sana.
Sebagai film horror Indonesia, tentunya "wajib" ada penampakkan pocong, dan teman-temannya, tapi kalau hanya mengandalkan penampakkan dan musik yang bikin jantungan waktu mereka muncul, maka kalian salah besar! karena film ini menawarkan hal yang berbeda. Supaya jelas, maka saya akan mencoba membaginya menjadi beberapa bagian.
1. Karakter.
Saya harus angkat jempol kepada para pemeran film ini, karena mereka berakting natural, mulai dari Mia, si sutradara yang sangat ambisius, yang ketegasannya bisa diambang batas, karakter Migi yang bisa bikin kita berempati sekaligus menakutkan, bahkan Dias, yang dengan sifat spontannya bisa membuat kita tertawa sejenak. Para karakter ini bisa membawa kita ke dalam cerita ini dengan cara mereka, bahkan dengan gaya mockumenter, maka seolah-olah kita ikut nimbrung didalamnya.
2. Cerita
Seperti tipikal horror pada umunya, cerita bergulir seputar cerita dan peristiwa mistis yang terjadi di Jogjakarta, premis ceritanya sudah saya ceritakan di depan. Tapi yang bikin spesial adalah gaya mockumenter yang dipakai di film ini, sehingga seperti nyata dan kita mengalaminya sendiri.
Kita bisa dibuat penasaran, sama seperti para karaker yang penasaran, kita dibuat ketakutan ketika mereka ketakutan, bahkan saya melompat ke belakang dan ingin lari tapi tak bisa (kalau saya lari, maka laptop saya juga ikutan lari....terseret di lantai)
3. Jumpscare / Penampakkan
Bukan film horror kalau tidak ada jumpscarenya. Berbeda dengan film lainnya, yang bikin kita jantungan bukan karena wajah hantunya, tapi karena soundnya. Film ini minim musik, bahkan tidak ada score yang mengiringi setiap penampakkan. Jumpscare atau penampakkan di film ini memang sedikit, tapi bisa bikin kita jantungan dan menjerit seperti kucing diinjak ekornya. Ga enak kalau diceritakan, lebih baik nonton saja sendiri.
4. Lokasi
Lokasi film ini mengambil tempat di pantai Parangtritis, dan makam Imogiri. Maka lengkaplah sudah segala kesan mistis film ini. Ada banyak cerita penampakkan di lokasi syuting. Salah satunya adalah ketika mereka sedang membersihkan makam Imogiri, ada salah seorang kru yang bisa "melihat", dia melihat ada seorang wanita yang tersenyum ke arah mereka. Apakah itu ungkapan terima kasih? Entahlah, tapi lokasi yang dipilih di film ini memang sangat mendukung alur cerita film ini.
Hal menarik dari film ini adalah, para pemeran tidak mendapat naskah, mereka hanya dibriefing selama 15 menit sebelum syuting, dan sutradara membiarkan mereka berakting sesuai karakter mereka, tanpa harus menghafal naskah. Bahkan Monti Tiwa, juga turun tangan sebagai karakter Cungkring, sang kameramen, sehingga dia bisa mengontrol pengambilan gambar yang sesuai dengan tuntutan naskah.
Menonton Keramat bagaikan kita adalah bagian dari kru BTS, yang harus melihat segala kengerian dan segala emosi yang ada. Siapapun bisa emosi ketika diperhadapkan dengan sesuatu yang harusnya sesuai dengan tuntutan kita, tapi malah berakhir dengan hal lain. Kita juga diajarkan bahwa hal-hal mistis memang ada di sekitar kita, percaya atau tidak, mereka memang ada. Karena hal itulah, kita harus waspada dan mawas diri terhadap sesuatu yang ada di sekitar kita.
Tak berlebihan, jika IMDB mengganjar film ini dengan rating 6.9! Kalau mau menonton film horror yang efek menakutkannya sampai bahkan kita mau kencing saja minta diantarin, silahkan nonton film ini. Dijamin, kalian akan parno sendiri
nb. scene penampakkan pocong dikuburan, mau tak mau membuat saya harus melompat ke belakang sambil membuang headshet saya. Bangsat memang!!!!

Komentar
Posting Komentar